Sabtu, 19 Juni 2010

Sensori Integrasi dan Okupasi Terapi

Pada umumnya orang mengetahui tugas OT adalah memberikan aktivitas motorik halus padahal area yang dikerjakan OT sangat luas dan sekarang untuk OT di negara maju seperti Amerika dan Canada sudah menjurus pada bidang sub spesialis, khusus pada bidang sensory integration, memory training, social skills training, dll. OT dapat berperan pada kondisi fisik, mental dan atau sosial dengan menggunakan berbagai macam aktivitas terapeutikperforma anak dalam hal aktivitas yang bersifat produktif baik di rumah maupun di sekolah seperti ketrampilan menulis, membaca, dll, aktivitas bantu diri (self care) seperti mandi, berpakaian, makan, minum, memakai sepatu, dll serta meningkatkan kemampuan bermain (play and leisure) dan interaksi sosial.


Secara umum OT dapat memberikan treatment pada kondisi seperti adanya gangguan neurologis seperti Cerebral Palcy, disabilitas fisik seperti Spina Bifida, Gangguan tumbuh kembang, Gangguan/Kesulitan Belajar (Learning Disability), Gangguan Mental/ Perilaku, kondisi ortopedi dan anak-anak dengan Autistik Spectrum Disorder.


Bermain adalah pekerjaan utama anak, melaui bermain amok belajar tentang dirinya dan dunia sekitarnya. (Sensory Integration International, 1991). Melalui hal tersebut, Okupasi Terapis dapat memberikan aktifitas pada setiap sesi terapi secara relevan. Sehinggga anak akan memiliki dorongan dalam diri untuk bergerak, bereksplorasi dan belajar melalui pengalaman yang menyenangkan. Pembelajaran yang paling baik adalah saat anak mendapat pengalaman yang menyenangkan, memuaskan dan aman. Terapi dilakukan dengan bermain adalah sangat penting pada proses pencapaian dan tujuan terapeutik.


Konsep Sensory Integration merupakan karya yang dikembangkan oleh A. Jean Ayres, PhD. OTR seorang Occupational Therapist. Tujuan A. Jean Ayers, Phd, OTR. FAOTa saat meneliti Sensori Integrassi adalah pengembangan teori yang menjelaskan hubungan antara perilaku sensor-motor, fungsi saraf dan kemampuan pre akademik ( fisher, Murray, Bundy,1991). Otak harus mampu mengatur sensasi agar seseorang dapat bergerak, belajar dan berperilaku secara normal.

Sensory Integration merupakan suatu proses neurologi dalam mengatur dan menterjemahkan input sensori, untuk dapat memberikan respon sesuai dengan input tersebut.

Anak dengan SI Dysfunction karena ada gangguan fungsi otak yang menghambat kemampuan mengatur dan menterjemahkan informasi sensori motor.

SI Dysfunction mungkin menjadi penyebab dari adanya masalah seperti kesulitan bicara, kesulitan konsentrasi, kekacauan sosial-emosional, gangguan perilaku dan masalah-masalah lain.

Keterlibatan aktif anak akan memberikan pengalaman dan pembelajaran yang terbaik untuk menuntun ke arah pertumbuhan proses belajar dan pengaturan tingkah laku yang lebih baik

Kemajuan dalam mengikuti terapi SI tidak bisa dipisahkan dengan peran aktif orang tua.

Peningkatan pada koordinasi gerak dapat dilihat dari kemampuan anak untuk melakukan tugas motorik kasar atau halus dengan keterampilan yang lebih baik dan pada tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari yang diharapkan ketika anak belum mengikuti terapi.

Untuk anak yang pada mulanya menunjukkan masalah pada respon yang berlebihan atau kurang terhadap rangsangan, respon yang lebih normal dapat membimbing ke arah penyesuaian emosi yang lebih baik, meningkatkan keterampilan personal sosial, atau percaya diri yang lebih besar.

Beberapa anak akan menunjukkan adanya perkembangan bicara dan bahasa, dll. Sangat sering, orangtua melaporkan bahwa anak mereka kelihatannya lebih tenang, lebih perhatian, lebih memiliki percaya diri, lebih cepat dalam mempelajari sesuatu kemampuan baru, serta sangat menunjang kemajuan di berbagai program terapi lainnya.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

Link ke posting ini:

Buat sebuah Link

<< Beranda